GEU NAMJAA…
“ …yak! Berdiri sekarang dan mulailah untuk memakannya!” suara itu
terdengar menggelegar, aku masih terdiam di bangkuku. Bingung, satu kata itu
menggema di pikiranku bagaimana bisa seorang panitia MOS menyuruhku untuk
memakan hamburger sebanyak 20 buah hanya ditemani secangkir kecil air mineral,
semua ini hanya gara-gara aku tak sengaja membantah mereka. Habis sikap mereka
sangat-sangat menyebalkan, terutama si ketua yang sialnya akan menjadi kakak
pemandu MOS kami.
“ Hei! Kau, apa tak dengar cepat makan!”
sontak aku tersadar dari lamunanku apa-apaan ini. Dengan hati setengah aku
berjalan ke depan kelas diikuti tatapan kasihan dari teman-teman senasibku,
sama-sama jadi bahan kejailan kakak kelas! “ apa kalian serius, bagaimana bisa
aku memakan 20 hamburger hanya dengan minum segelas kecil ini? Apa kalian sudah
gila?” rutukku dalam hati, “ bagus, karena kau sudah maju sekarang silahkan
dimakan dalam waktu 10 menit dan kuberitahu bahwa permainan ini special karena
hanya diadakan di kelas ini. Hahaha,” suaranya kembali terdengar di telingaku,
sial.
Suara sempritan peluit terdengar di
telingaku pertanda aku harus mulai memakannya, mana teman-teman sekelas
melihatku lagi! Betapa memalukannya ini! Ayo Sora kau pasti bisa hanya tinggal
17 buah lagi. “ uhukk-uhukk” aku tersedak what?? Waktu tinggal 6 menit lagi apa
yang bisa kulakukan, aku hanya bisa mengunyahnya tak ada waktu untuk minum itu
hanya mengahabiskan waktu. Tuhan tenggorokanku sakit sekali dan ‘great’ waktu
habis aku menyisakan 15 hamburger dan minumku sukses tak tersentuh sama sekali.
“katakan siapa namamu?” si ketua bertanya
padaku dengan tatapan mematikan aku tak sanggup menatapnya, “ L-l-lee s-sora,…”
gumamku takut-takut, “katakan dengan keras, aku tak mendengarnya!” ujarnya
membentakku. Kemarahanku tak terpendam lagi aku tak tahan biarlah aku dihukum
lagi toh besok adalah hari terakhir “ LEE SORA! PUAS KAU!” bentakku kasar semua
mata tertuju kearahku tak menyangka aku seberani ini aku sendiri juga tak
menyangka suaraku sekeras ini.
“ wah besar juga nyalimu Sora, baiklah
karena aku kasihan padamu sudah sana duduk di bangkumu,” suruhnya menunjuk
bangkuku. “Aku pulang !” teriakku, ini memang sudah kebiasaanku, “yeobo,
bagaimana jika ia kita titipkan di rumah
sahabatku saja, namanya Byun Hara ?” nyonya Lee menatap suaminya “ baiklah
tidak ada pilihan lain. Lagi pula kita harus segera berangkat ke Amerika untuk
mengurus pengobatanmu,” tuan Lee angkat suara, “ lebih baik kau yang berbicara
pada Sora, mungkin ia akan mengerti lagi pula kau dekat dengan Hara.”
Suara langkah berat itu mulai terdengar ke
kamarku, tak lama pintu diketuk “masuk…” ucapku sambil menyiapkan alat tulis
untuk MOS besok. ”sayang, eomma ingin berbicara sebentar denganmu, langsung
keintinya saja ya?” eommaku menatapku lembut dengan pandangan agak gelisah, “
ada apa eomma,?” tanyaku penasaran. “Sora kau tahu bukan eommamu ini menderita penyakit leukemia? Untuk
menyembuhkannya kami harus ke Amerika, di Korea para dokter dari Rumah sakit
ternama manapun menyarankan kami ke Amerika, dan kau akan tinggal di rumah
Hara,” eommaku berujar dengan suara pelan.
Aku
berpikir sejenak, memang aku sudah dekat dengan Hara ahjumma tapi
rasanya tetap saja tak enak, tinggal di rumah orang lain. Demi eomma, Sora tak
apalah, “ ara, eomma. Kapan aku mulai tinggal di sana?” eomma memelukku,“ mulai
besok, sepulang sekolah kau akan dijemput appa dan selama 5 tahun mungkin kurang
atau lebih kau tinggal disana.” Setelah itu eomma meninggalkanku untuk
menyelesaikan tugas-tugasku. ‘Selesai’ gumamku, 5 tahun? Bukankah itu waktu
yang cukup lama?
“bukk” aku terlempar dari tempat tidurku “
ahh, shit. Lebam di sikuku biru, “ umpatku. Tak kuperdulikan rasa nyut-nyutan
itu aku mengambil handuk dan mandi, tadaa, seragam SMA sung won menempel di
badanku “pas” ucapku girang. Setelah meminum susu dan memakan selembar roti aku
berangkat ke sekolah, setelah naik ke lantai dua aku berlari waktu tinggal 4
menit untuk bel masuk berbunyi, “brughhh” aku bertabrakkan dengan namja sepertinya
usianya seumuranku, 17 tahun, “maaf, aku terburu-buru.” Selaku sambil
membereskan buku-bukunya yang jatuh, “ tak apa lagipula tak terasa sakit, oh ya
sepertinya kau seumuranku kenalkan, namaku Byun Kwangsoo,” ulurnya sambil
tersenyum, aku membalas senyumannya ” Lee Sora, nama yang bagus Kwangsoo-ssi.”
Setelah perkenalan singkat itu aku masuk
ke kelasku dan tebak Byun Baekhyun si ketua MOS sudah menyiapkan hukuman
untukku karena terlambat, hukumannya adalah membersihkan ruang olahraga SMA
yang luasnya setara dengan 2 lapang di SMPku dulu, dan sialnya hanya aku
sendiri yang melakukannya. Jam menujukkan pukul 2 siang untung sudah selesai
acara membersihkannya, yah walaupun kurang bersih, aku mengeluarkan ponselku
mengetik sms untuk appaku agar menjemputku, tak lama kemudian… “ Sora, ppali
naik, pesawat appa akan berangkat sebentar lagi,” setelah aku duduk di
sebelahnya mobil Ferrari ini dilajukan
dengan cepat, mungkin untuk mengejar waktu, tak lama aku sampai di rumah
Ahjumma. Ternyata rumahnya besar dan bernuansa Korea jaman saeguk berpadu
dengan arsitektur modern.
“ Wah, Sora sudah besar ya, lama aku tak
melihatmu. Anggap saja ini rumahmu,tenang dan agar lebih dekat panggil aku ahjumma
saja,” ujar Hara ahjumma sambil memegang tanganku dan tersenyum memang ia duduk
disebelahku. “ Sora appa dan eomma akan pergi sekarang. Baik-baik dengan Hara,
oke?” ujar eommaku sambil berjalan kedepan tak lupa mereka memelukku dan
memberikanku kartu kredit agar tak merepotkan Hara ahjumma, ah maksudku ahjumma.
Setelah appa dan eomma pergi aku diantar ahjumma ke kamarku di lantai 2, ia
membawakan sebagian bawaanku dilihat dari mainan yang terpajang di ruang tamu
sepertinya keluarga Hara ahjumma tak memiliki anak perempuan.
Sesampainya di kamarku ahjumma mengajakku
duduk di kasur, ia bercerita bahwa dirinya tak memiliki anak perempuan hanya
satu laki-laki dan keponakannya juga laki-laki, betapa senangnya ia mendapatkan
aku yang notabene perempuan akan tingal dirumahnya katanya ia akan melakukan
kegiatan yang biasa dilakukan seorang ibu dengan anak perempuannya. Dan lihat
kamarku serba biru berpadu dengan pink warna yang kusuka, ada tempat tidur
berukuran king, dan selimut, bantal juga guling yang empuk dan berbahan lembut.
Setelah itu ahjumma meninggalkanku agar aku mulai menata kamarku dan hebatnya
kamar ini luas, sampai meja belajar dan meja untuk makan muat disini itupun
masih ada sisa untuk sofa dan kamarku tak terlihat sempit walaupun ada property
itu.
Setelah menata kamarku aku berjalan-jalan
mengelilingi rumah ada 1 kamar didepanku dan 1 di kananku sepertinya yang kanan
punya anak ahjumma dan depanku punya keponakan ahjumma
Sore sudah menjelang aku harus segera
mandi dan bersiap-siap untuk makan malam. Saat bersiap-siap aku mendengar seseorang membuka pintu kamar
di sampingku, sepertinya ia sedang lelah karena membanting pintu kamarnya cukup
keras, setelah itu aku masuk ke kamar mandi yang untungnya ada di dalam
kamarku. Sore ini aku memakai offroll celana di atas lutut dan baju berwarna
putih sesiku, rambutku yang lurus dan panjang kugerai dan kutempelkan jepit di
poniku agar tak mengganggu, aku turun untuk membantu ahjumma menata meja untuk
makan sore.
Awalnya ahjumma keberatan namun aku
memaksanya, akhirnya Setelah menata meja makan dan membawa banyak masakan ke
meja. Aku, ahjussi dan ahjumma duduk kami sepertinya sedang menunggu anak dari
ahjumma dan ahjussi tak lama namja itu turun, namja itu duduk di depanku
sedangkan aku sedang memainkan ponselku, ketika itu pintu terbuka dan masuk
seorang namja, secara tak sengaja aku menatap kedepan.
“kau..k-kau…” tudingku ke arah namja di
depanku, semua melirik ke arahku termasuk namja yang baru pulang itu, tuhan
namja di depanku…
TO BE CONTINUE….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar