Rabu, 09 April 2014

my story....

GEU NAMJAA…

            “ …yak! Berdiri sekarang dan mulailah untuk memakannya!” suara itu terdengar menggelegar, aku masih terdiam di bangkuku. Bingung, satu kata itu menggema di pikiranku bagaimana bisa seorang panitia MOS menyuruhku untuk memakan hamburger sebanyak 20 buah hanya ditemani secangkir kecil air mineral, semua ini hanya gara-gara aku tak sengaja membantah mereka. Habis sikap mereka sangat-sangat menyebalkan, terutama si ketua yang sialnya akan menjadi kakak pemandu MOS kami.

“ Hei! Kau, apa tak dengar cepat makan!” sontak aku tersadar dari lamunanku apa-apaan ini. Dengan hati setengah aku berjalan ke depan kelas diikuti tatapan kasihan dari teman-teman senasibku, sama-sama jadi bahan kejailan kakak kelas! “ apa kalian serius, bagaimana bisa aku memakan 20 hamburger hanya dengan minum segelas kecil ini? Apa kalian sudah gila?” rutukku dalam hati, “ bagus, karena kau sudah maju sekarang silahkan dimakan dalam waktu 10 menit dan kuberitahu bahwa permainan ini special karena hanya diadakan di kelas ini. Hahaha,” suaranya kembali terdengar di telingaku, sial.

Suara sempritan peluit terdengar di telingaku pertanda aku harus mulai memakannya, mana teman-teman sekelas melihatku lagi! Betapa memalukannya ini! Ayo Sora kau pasti bisa hanya tinggal 17 buah lagi. “ uhukk-uhukk” aku tersedak what?? Waktu tinggal 6 menit lagi apa yang bisa kulakukan, aku hanya bisa mengunyahnya tak ada waktu untuk minum itu hanya mengahabiskan waktu. Tuhan tenggorokanku sakit sekali dan ‘great’ waktu habis aku menyisakan 15 hamburger dan minumku sukses tak tersentuh sama sekali.

“katakan siapa namamu?” si ketua bertanya padaku dengan tatapan mematikan aku tak sanggup menatapnya, “ L-l-lee s-sora,…” gumamku takut-takut, “katakan dengan keras, aku tak mendengarnya!” ujarnya membentakku. Kemarahanku tak terpendam lagi aku tak tahan biarlah aku dihukum lagi toh besok adalah hari terakhir “ LEE SORA! PUAS KAU!” bentakku kasar semua mata tertuju kearahku tak menyangka aku seberani ini aku sendiri juga tak menyangka suaraku sekeras ini.

“ wah besar juga nyalimu Sora, baiklah karena aku kasihan padamu sudah sana duduk di bangkumu,” suruhnya menunjuk bangkuku. “Aku pulang !” teriakku, ini memang sudah kebiasaanku, “yeobo, bagaimana jika ia kita titipkan  di rumah sahabatku saja, namanya Byun Hara ?” nyonya Lee menatap suaminya “ baiklah tidak ada pilihan lain. Lagi pula kita harus segera berangkat ke Amerika untuk mengurus pengobatanmu,” tuan Lee angkat suara, “ lebih baik kau yang berbicara pada Sora, mungkin ia akan mengerti lagi pula kau  dekat dengan Hara.”
Suara langkah berat itu mulai terdengar ke kamarku, tak lama pintu diketuk  “masuk…” ucapku sambil menyiapkan alat tulis untuk MOS besok. ”sayang, eomma ingin berbicara sebentar denganmu, langsung keintinya saja ya?” eommaku menatapku lembut dengan pandangan agak gelisah, “ ada apa eomma,?” tanyaku penasaran. “Sora kau tahu bukan eommamu ini  menderita penyakit leukemia? Untuk menyembuhkannya kami harus ke Amerika, di Korea para dokter dari Rumah sakit ternama manapun menyarankan kami ke Amerika, dan kau akan tinggal di rumah Hara,” eommaku berujar dengan suara pelan.

Aku  berpikir sejenak, memang aku sudah dekat dengan Hara ahjumma tapi rasanya tetap saja tak enak, tinggal di rumah orang lain. Demi eomma, Sora tak apalah, “ ara, eomma. Kapan aku mulai tinggal di sana?” eomma memelukku,“ mulai besok, sepulang sekolah kau akan dijemput appa dan selama 5 tahun mungkin kurang atau lebih kau tinggal disana.” Setelah itu eomma meninggalkanku untuk menyelesaikan tugas-tugasku. ‘Selesai’ gumamku, 5 tahun? Bukankah itu waktu yang cukup lama?

“bukk” aku terlempar dari tempat tidurku “ ahh, shit. Lebam di sikuku biru, “ umpatku. Tak kuperdulikan rasa nyut-nyutan itu aku mengambil handuk dan mandi, tadaa, seragam SMA sung won menempel di badanku “pas” ucapku girang. Setelah meminum susu dan memakan selembar roti aku berangkat ke sekolah, setelah naik ke lantai dua aku berlari waktu tinggal 4 menit untuk bel masuk berbunyi, “brughhh” aku bertabrakkan dengan namja sepertinya usianya seumuranku, 17 tahun, “maaf, aku terburu-buru.” Selaku sambil membereskan buku-bukunya yang jatuh, “ tak apa lagipula tak terasa sakit, oh ya sepertinya kau seumuranku kenalkan, namaku Byun Kwangsoo,” ulurnya sambil tersenyum, aku membalas senyumannya ” Lee Sora, nama yang bagus Kwangsoo-ssi.”

Setelah perkenalan singkat itu aku masuk ke kelasku dan tebak Byun Baekhyun si ketua MOS sudah menyiapkan hukuman untukku karena terlambat, hukumannya adalah membersihkan ruang olahraga SMA yang luasnya setara dengan 2 lapang di SMPku dulu, dan sialnya hanya aku sendiri yang melakukannya. Jam menujukkan pukul 2 siang untung sudah selesai acara membersihkannya, yah walaupun kurang bersih, aku mengeluarkan ponselku mengetik sms untuk appaku agar menjemputku, tak lama kemudian… “ Sora, ppali naik, pesawat appa akan berangkat sebentar lagi,” setelah aku duduk di sebelahnya  mobil Ferrari ini dilajukan dengan cepat, mungkin untuk mengejar waktu, tak lama aku sampai di rumah Ahjumma. Ternyata rumahnya besar dan bernuansa Korea jaman saeguk berpadu dengan arsitektur modern.

“ Wah, Sora sudah besar ya, lama aku tak melihatmu. Anggap saja ini rumahmu,tenang dan agar lebih dekat panggil aku ahjumma saja,” ujar Hara ahjumma sambil memegang tanganku dan tersenyum memang ia duduk disebelahku. “ Sora appa dan eomma akan pergi sekarang. Baik-baik dengan Hara, oke?” ujar eommaku sambil berjalan kedepan tak lupa mereka memelukku dan memberikanku kartu kredit agar tak merepotkan Hara ahjumma, ah maksudku ahjumma. Setelah appa dan eomma pergi aku diantar ahjumma ke kamarku di lantai 2, ia membawakan sebagian bawaanku dilihat dari mainan yang terpajang di ruang tamu sepertinya keluarga Hara ahjumma tak memiliki anak perempuan.

Sesampainya di kamarku ahjumma mengajakku duduk di kasur, ia bercerita bahwa dirinya tak memiliki anak perempuan hanya satu laki-laki dan keponakannya juga laki-laki, betapa senangnya ia mendapatkan aku yang notabene perempuan akan tingal dirumahnya katanya ia akan melakukan kegiatan yang biasa dilakukan seorang ibu dengan anak perempuannya. Dan lihat kamarku serba biru berpadu dengan pink warna yang kusuka, ada tempat tidur berukuran king, dan selimut, bantal juga guling yang empuk dan berbahan lembut. Setelah itu ahjumma meninggalkanku agar aku mulai menata kamarku dan hebatnya kamar ini luas, sampai meja belajar dan meja untuk makan muat disini itupun masih ada sisa untuk sofa dan kamarku tak terlihat sempit walaupun ada property itu.

Setelah menata kamarku aku berjalan-jalan mengelilingi rumah ada 1 kamar didepanku dan 1 di kananku sepertinya yang kanan punya anak ahjumma dan depanku punya keponakan ahjumma

Sore sudah menjelang aku harus segera mandi dan bersiap-siap untuk makan malam. Saat bersiap-siap  aku mendengar seseorang membuka pintu kamar di sampingku, sepertinya ia sedang lelah karena membanting pintu kamarnya cukup keras, setelah itu aku masuk ke kamar mandi yang untungnya ada di dalam kamarku. Sore ini aku memakai offroll celana di atas lutut dan baju berwarna putih sesiku, rambutku yang lurus dan panjang kugerai dan kutempelkan jepit di poniku agar tak mengganggu, aku turun untuk membantu ahjumma menata meja untuk makan sore.

Awalnya ahjumma keberatan namun aku memaksanya, akhirnya Setelah menata meja makan dan membawa banyak masakan ke meja. Aku, ahjussi dan ahjumma duduk kami sepertinya sedang menunggu anak dari ahjumma dan ahjussi tak lama namja itu turun, namja itu duduk di depanku sedangkan aku sedang memainkan ponselku, ketika itu pintu terbuka dan masuk seorang namja, secara tak sengaja aku menatap kedepan.

“kau..k-kau…” tudingku ke arah namja di depanku, semua melirik ke arahku termasuk namja yang baru pulang itu, tuhan namja di depanku…



TO BE CONTINUE….


Tidak ada komentar:

Posting Komentar