Senin, 31 Maret 2014

sebuah pasangan


SEBUAH PASANGAN
Aku tahu itu semua benar,
hanya sulit untuk mempercayainya
 karena dia adalah  sahabatku….

Hujan itu terus mengalir deras. Tak kusangka pagi yang cerah ini harus berubah mendung padahal pagi tadi cuaca benar-benar cerah kupikir sepertinya musim hujan akan segera datang, namun apaboleh buat aku lupa membawa sebuah benda penting yaitu sebuah payung. Aku tak mau ambil repot daripada telat mendingan basah sedikit lagian hujannya belum begitu deras kok.

“ Yes, akhirnya selamat,” aku berjalan menuju ke kelasku, kelas 2-5. Sampainya di kelas segera kuambil bangku tengah karena lebih enak memang berada di barisan tengah lebih leluasa! “ Naeun, kau sudah belajar untuk ulangan guru park hari ini? ” Yoona memandangku sambil bertopang dagu dikursi didepanku, “ Hmm, sudahlah bagaimana denganmu? “ aku balas bertanya padanya selagi mengeluarkan buku catatan untuk kupelajari sekali lagi. “ Tentunya, aku tak ingin nilaiku hancur lagi, oh iya bukankah hari ini hari kelahiran Tara???” ujarnya dengan menatapku penasaran.

“ Ya, benar. Wah kita siap-siap dapat makanan gratis nih. Ah sudahlah ayo lebih baik  belajar dulu.”

“ Naeun, bisa kau ajari tentang ini?”

“ Oh, yang ini begini caranya, kau harus membaginya dahulu baru kau kalikan, dan jangan bingung bila jawabannya tak ada pada pilihan siapa tahu ini harus kau kalikan dengan -1 dahulu. Mengerti?”

tak lama kudengar suara seseorang yang tak asing di telingaku kami sudah dua tahun ini berada dalam kelas yang sama. Namja  itu bernama Jinwoon ia seorang yang terkenal di sekolah kami dan dulu sewaktu kelas 1 ia sempat menjadi seorang Idola disekolah kami. Seluruh anak wanita disekolahku suka kepadanya sama seperti anak-anak lainnya aku pun sempat menyukainya namun tidak sekarang. “ Wah, Naeun, lihat Tara sudah datang. Shuut.” Ujarnya seraya menempelkan jari telunjuknya dibibirnya dan berpura-pura memasang wajah serius.

“ Tara-ssi selamat ulang tahun, semoga panjang umur dan jangan lupa traktirannya.” Ujarku dengan wajah bercanda, “ oh, terimakasih. Tentu aku tak akan lupa tentang traktiran, lalu dimana Suzy?” ia memandang sekeliling kelas mungkin mencari Suzy. “Tentu ia belum datang mungkin karena rumahnya yang lumayan jauh dari sini lagian hari ini hujan-kan? Mudah-mudahan saja nanti pulang sudah reda, Tara, Yoona lebih baik kalian duduk di tempat masing-masing karena sepertinya guru Park akan segera datang. Ah itu dia Suzy sudah datang, oke?”

Tak lama kemudian guru Park datang sambil membawa soal ulangan kami, hufft benar-benar soal yang susah tak heran karena soal ini merupakan contoh soal yang dipakai untuk olimpiade. Dua jam pelajaran berlalu dengan cepat kali ini terdengar bel istirahat berbunyi. “Anak-anak cepat kumpulkan soalnya dan keluar untuk istirahat.” Seru guru Park sambil membereskan berkas-berkasnya.

“ Omo, ulangan kali ini benar-benar susah. Bagaimana denganmu?” Yoona menatap padaku, “ tentu saja sama denganku, namun bagi Suzy ini pasti lumayan.” Aku menatap  Suzy “ tidak juga aku pun berpikir ini soal yang susah sudahlah tak usah dipikirkan lagi.” Ia menatap pintu keluar kelas kami mungkin berharap Tara dan Yuri segera keluar, namun tak sesuai harapan yang datang adalah Jinwoon dan seperti biasa ia akan berjalan menuju jendela kelas di depan kelas kami lalu mulai mengobrol dengan Naomi sahabatku dan sahabatnya atau mungkin pacarnya dengan jarak mungkin 10 cm.

“ Naeun, lihat itu Jinwoon mulai lagi, aku mulai jijik lama-lama melihatnya karena tak sesuai dengan peraturan sekolah kita, mereka seperti orang yang berpacaran saja.” Ujar Tara yang sudah keluar, “ iya, namun entahlah apaboleh buat kita tidak cukup berani untuk menegurnya entahlah bagaimana dengan pemikiran para guru masih bisa membanggakan orang sepertinya, memang sih ia sering mengikuti lomba namun jika kelakuannya seperti itu benar-benar bertolak belakang dengan kepintarannya.” Ujarku dengan maklum. Sebenarnya aku juag tak rela karena Naomi adalah sahabatku.

Pelajaran sekolah telah usai dan kami berjalan menuju café di depan sekolah kami tantu untuk merayakan ulah tahun Tara. Sesampainya di sana kami mengambil 2 meja untuk dijadikan satu “ Tara, berapa batas untuk makanan yang akan kami pesan?” Yoona bertanya sambil meletakkan tasnya di samping bangkunya. “ Tak usah ada batas kalian boleh pesan semau kalian karena hari ini adalah ulang tahunku.” Tara duduk tepat di sampingku. Setelah kami memesan makanan dan minuman kami, aku melihat Naomi datang bersama Jinwoon mereka duduk berduaan di meja tepat di depan kami. Tak lama kemudian makanan kami dan mereka datang, pada saat aku makan tak sengaja kulihat mereka sempat berpegangan tangan, itu merupakan hal yang tak wajar dilingkungan smp dan itu terjadi beberapa kali.

“Lihat itu mereka berpegangan tangan, benar-benar drama korea dalam café “ celetuk Suzy. “ Dengar aku mulai tak tahan dengan keadaan ini bagaimana jika kita mengehntikan mereka dengan sepucuk surat mungkin mereka bisa sadar,” usulku. “ Boleh ehmm ngomong-ngomong ada yang membawa kertas biar nanti aku yang memberikan suratnya pada mereka.” Tara berkata dengan penuh semangat. Setelah kami menulis suratnya tara pun memberikannya pada Naomi dan Jinwoon. Tak lama kulihat ada sedikit keterkejutan di wajah mereka

            “ Benarkah kalian merasa seperti itu?” Jinwoon menatap pada kami, aku yang tak tahan langsung menjawab dengan jujur ” ya, kalian seharusnya bisa mengontrol perasaan kalian dan jangan ditunjukkan di depan umum, bukankah itu memalukan sekolah kita apalagi kalian masih mengenakan seragam identitas. Kuharap kalian bisa mengerti perasaan kami terhadap kalian begitu juga dengan teman-teman yang lain.” Aku berkata seraya menatapnya, teman-temanku yang lain pun mengangguk-angguk tanda setuju. “ Ehmm, baiklah maaf jika selama ini kami terlalu berbuat yang tidak wajar dan itu mengganggu kalian kami janji tidak akan mengulanginya lagi.”  Jinwoon berkata penuh penyesalan, “ baiklah kupegang janjimu.” Tara menimpali.

            Semenjak hari itu aku tak pernah melihatnya berbuat demikian lagi mungkin ia memang benar-benar menepati janjinya kuharap itu benar. Dan hubungan mereka sekarang lebih seperti sahabat yang sesungguhnya bukan seperti seorang yang berpacaran dan yang terpenting hal itu membuat kami semua merasa nyaman dan juga Naomi tak kehilangan harga dirinya lagi di depan teman-temanku.