SEBUAH PASANGAN
Aku
tahu itu semua benar,
hanya
sulit untuk mempercayainya
karena dia adalah sahabatku….
Hujan itu terus mengalir deras. Tak
kusangka pagi yang cerah ini harus berubah mendung padahal pagi tadi cuaca
benar-benar cerah kupikir sepertinya musim hujan akan segera datang, namun
apaboleh buat aku lupa membawa sebuah benda penting yaitu sebuah payung. Aku
tak mau ambil repot daripada telat mendingan basah sedikit lagian hujannya
belum begitu deras kok.
“ Yes, akhirnya selamat,” aku berjalan
menuju ke kelasku, kelas 2-5. Sampainya di kelas segera kuambil bangku tengah
karena lebih enak memang berada di barisan tengah lebih leluasa! “ Naeun, kau
sudah belajar untuk ulangan guru park hari ini? ” Yoona memandangku sambil
bertopang dagu dikursi didepanku, “ Hmm, sudahlah bagaimana denganmu? “ aku
balas bertanya padanya selagi mengeluarkan buku catatan untuk kupelajari sekali
lagi. “ Tentunya, aku tak ingin nilaiku hancur lagi, oh iya bukankah hari ini
hari kelahiran Tara???” ujarnya dengan menatapku penasaran.
“ Ya, benar. Wah kita siap-siap dapat
makanan gratis nih. Ah sudahlah ayo lebih baik
belajar dulu.”
“ Naeun, bisa kau ajari tentang ini?”
“ Oh, yang ini begini caranya, kau harus
membaginya dahulu baru kau kalikan, dan jangan bingung bila jawabannya tak ada
pada pilihan siapa tahu ini harus kau kalikan dengan -1 dahulu. Mengerti?”
tak lama kudengar suara seseorang yang
tak asing di telingaku kami sudah dua tahun ini berada dalam kelas yang sama. Namja itu bernama Jinwoon ia seorang yang terkenal
di sekolah kami dan dulu sewaktu kelas 1 ia sempat menjadi seorang Idola
disekolah kami. Seluruh anak wanita disekolahku suka kepadanya sama seperti
anak-anak lainnya aku pun sempat menyukainya namun tidak sekarang. “ Wah,
Naeun, lihat Tara sudah datang. Shuut.” Ujarnya seraya menempelkan jari
telunjuknya dibibirnya dan berpura-pura memasang wajah serius.
“ Tara-ssi selamat ulang tahun, semoga panjang umur dan jangan lupa
traktirannya.” Ujarku dengan wajah bercanda, “ oh, terimakasih. Tentu aku tak
akan lupa tentang traktiran, lalu dimana Suzy?” ia memandang sekeliling kelas
mungkin mencari Suzy. “Tentu ia belum datang mungkin karena rumahnya yang
lumayan jauh dari sini lagian hari ini hujan-kan?
Mudah-mudahan saja nanti pulang sudah reda, Tara, Yoona lebih baik kalian duduk
di tempat masing-masing karena sepertinya guru Park akan segera datang. Ah itu
dia Suzy sudah datang, oke?”
Tak lama kemudian guru Park datang
sambil membawa soal ulangan kami, hufft benar-benar soal yang susah tak heran karena
soal ini merupakan contoh soal yang dipakai untuk olimpiade. Dua jam pelajaran
berlalu dengan cepat kali ini terdengar bel istirahat berbunyi. “Anak-anak
cepat kumpulkan soalnya dan keluar untuk istirahat.” Seru guru Park sambil
membereskan berkas-berkasnya.
“ Omo, ulangan kali ini benar-benar
susah. Bagaimana denganmu?” Yoona menatap padaku, “ tentu saja sama denganku,
namun bagi Suzy ini pasti lumayan.” Aku menatap
Suzy “ tidak juga aku pun berpikir ini soal yang susah sudahlah tak usah
dipikirkan lagi.” Ia menatap pintu keluar kelas kami mungkin berharap Tara dan
Yuri segera keluar, namun tak sesuai harapan yang datang adalah Jinwoon dan
seperti biasa ia akan berjalan menuju jendela kelas di depan kelas kami lalu
mulai mengobrol dengan Naomi sahabatku dan sahabatnya atau mungkin pacarnya dengan jarak mungkin
10 cm.
“ Naeun, lihat itu Jinwoon
mulai lagi, aku mulai jijik lama-lama melihatnya karena tak sesuai dengan
peraturan sekolah kita, mereka seperti orang yang berpacaran saja.” Ujar Tara yang sudah keluar, “ iya,
namun entahlah apaboleh buat kita tidak cukup berani untuk menegurnya entahlah
bagaimana dengan pemikiran para guru masih bisa membanggakan orang sepertinya,
memang sih ia sering mengikuti lomba namun jika kelakuannya seperti itu
benar-benar bertolak belakang dengan kepintarannya.” Ujarku dengan maklum. Sebenarnya aku juag tak rela karena Naomi adalah sahabatku.
Pelajaran sekolah telah usai
dan kami berjalan menuju café di depan sekolah kami tantu untuk merayakan ulah
tahun Tara. Sesampainya di sana kami mengambil 2 meja untuk dijadikan satu “
Tara, berapa batas untuk makanan yang akan kami pesan?” Yoona bertanya sambil
meletakkan tasnya di samping bangkunya. “ Tak usah ada batas kalian boleh pesan
semau kalian karena hari ini adalah ulang tahunku.” Tara duduk tepat di
sampingku. Setelah kami memesan makanan dan minuman kami, aku melihat Naomi
datang bersama Jinwoon mereka duduk berduaan di meja tepat di depan kami. Tak
lama kemudian makanan kami dan mereka datang, pada saat aku makan tak sengaja
kulihat mereka sempat berpegangan tangan, itu merupakan hal yang tak wajar
dilingkungan smp dan itu terjadi beberapa kali.
“Lihat itu mereka berpegangan
tangan, benar-benar drama korea dalam café “ celetuk Suzy. “ Dengar aku mulai
tak tahan dengan keadaan ini bagaimana jika kita mengehntikan mereka dengan
sepucuk surat mungkin mereka bisa sadar,” usulku. “ Boleh ehmm ngomong-ngomong
ada yang membawa kertas biar nanti aku yang memberikan suratnya pada mereka.” Tara
berkata dengan penuh semangat. Setelah kami menulis suratnya tara pun
memberikannya pada Naomi dan Jinwoon. Tak lama kulihat ada sedikit keterkejutan
di wajah mereka
“
Benarkah kalian merasa seperti itu?” Jinwoon menatap pada kami, aku yang tak
tahan langsung menjawab dengan jujur ” ya, kalian seharusnya bisa mengontrol
perasaan kalian dan jangan ditunjukkan di depan umum, bukankah itu memalukan
sekolah kita apalagi kalian masih mengenakan seragam identitas. Kuharap kalian
bisa mengerti perasaan kami terhadap kalian begitu juga dengan teman-teman yang
lain.” Aku berkata seraya menatapnya, teman-temanku yang lain pun
mengangguk-angguk tanda setuju. “ Ehmm, baiklah maaf jika selama ini kami
terlalu berbuat yang tidak wajar dan itu mengganggu kalian kami janji tidak
akan mengulanginya lagi.” Jinwoon
berkata penuh penyesalan, “ baiklah kupegang janjimu.” Tara menimpali.
Semenjak
hari itu aku tak pernah melihatnya berbuat demikian lagi mungkin ia memang
benar-benar menepati janjinya kuharap itu benar. Dan hubungan mereka sekarang
lebih seperti sahabat yang sesungguhnya bukan seperti seorang yang berpacaran dan
yang terpenting hal itu membuat kami semua merasa nyaman dan juga Naomi tak kehilangan harga dirinya lagi di depan teman-temanku.